MAKALAH
MANAJEMEN PEMASARAN ERA REVOLUSIINDUSTRI 4.0
“PERKEMBANGAN PEMASARAN TRADISIONAL
KE MODERN”

Disusun oleh:
TEDDY
RAMADHAN
17216329
4EA33
Dosen: Zaidatun
Ekastuti,S.E.,M.M
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
UNIVERSITAS GUNADARMA
2019/2020
KATA PENGANTAR
Puji
syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Semesta Alam karena atas izin
dan kehendak-Nya jugalah makalah ini dapat saya rampungkan tepat pada waktunya.
Penulisan
dan pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah “MANAJEMEN
PEMASARAN ERA REVOLUSI 4.0”. Dalam makalah ini saya berusaha semaksimal
mungkin. Tetapi saya yakin makalah ini masih banyak kekurangan disana-sini.
Oleh karena itu saya mengharapkan saran dan juga kritik membangun agar lebih
maju di masa yang akan datang.
Harapan
saya, makalah ini dapat menjadi track record dan menjadi referensi bagi saya
dalam mengarungi masa depan. Saya juga berharap agar makalah ini juga berguna
bagi orang lain yang membacanya.
Terima
kasih disampaikan kepada Ibu Zaidatun Ekastuti selaku dosen mata kuliah
MANAJEMEN PEMASARAN ERA REVOLUSI 4.0 yang telah membimbing dan memberikan
pengajaran terkait mata kuliah demi lancarnya tugas makalah ini. Demikianlah
makalah ini disusun semoga bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi
pembaca.
Tangerang,
November 2019
Penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL
KATA
PENGANTAR..................................................................................................................ii
DAFTAR
ISI................................................................................................................................iii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang...........................................................................................................................1
1.2 Rumusan
Masalah......................................................................................................................1
1.3 Tujuan
Penulisan........................................................................................................................1
BAB
II PEMBAHASAN
2.1
Pengertian dari Pemasaran......................................................................................................2
2.2 Bagaimana perkembangan pemasaran
tradisional ke pemasaran modern........................3
2.3 Ruang lingkup
konsumen.........................................................................................................4
BAB
III PENUTUP
3.1
Kesimpulan...........................................................................................................................6
Daftar
Pustaka............................................................................................................................7
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Industri 4.0 saat ini sedang hangat-hangatnya
diperbincangkan di Indonesia maupun diluar negeri. Revolusi Industri 4.0 adalah
sebuah perubahan zaman pada generasi ke empat yang mengacu pada revolusi
teknologi yang secara fundamental mampu mengubah cara hidup, bekerja dan
berhubungan satu sama lain. Dalam arti kata lain, perkembangan teknologi
menjadi penggerak utama pada era ini.
Dampak perubahan zaman tersebut juga mempengaruhi
perubahan perekonomian dunia, khususnya negara berkembang seperti Indonesia
yang sedang bergerak menuju ekonomi
digital yang diklaim mampu membawa pada kemakmuran yang berkesinambungan.
Ekonomi digital yang hadir dan menjanjikan kemakmuran,
membuat peluang bisnis
terbentang lebar. Mengingat teknologi telah membuat proses produksi, pemasaran,
distribusi dan sebagainya menjadi lebih efisien dan efektif, memberikan
konektivitas bagi pelaku bisnis agar terhubung dengan akses-akses modal dan
pasar yang baru, itu semua membuat teknologi seakan menyuguhkan aneka
kemudahan.
Di era ekonomi digital, Marketing 4.0 mulai
diperkenalkan. Marketing 4.0 merupakan pendekatan terbaru dalam dunia pemasaran
yaitu pendekatan pemasaran yang mengkombinasikan interaksi online dan interaksi
offline antara perusahaan dengan pelanggan yang tujuan utamanya yaitu
memenangkan advokasi konsumen.
Selain mengkombinasikan online dan offline, marketing 4.0
juga mengintegrasikan antara style dan substance, karena style itu penting
namun orang tidak hanya butuh stye saja tetapi juga ingin tahu substansinya,
jadi substansi juga penting. Artinya merek tidak hanya memprioritaskan branding
bagus tetapi juga meyuguhkan konten yang bagus dan relevan dengan kemasan
yang up-to-date.
Marketing 4.0 tidak hanya mengembangkan konektivitas
machine-to-machine dalam rangka mendongkrak produktivitas tetapi juga harus
diimbangi dengan pengembangan konektivitas human-to-human yang justru akan
memperkuat keterlibatan pelanggan. Sehingga perkembangan teknologi tidak
berhenti pada teknologi itu sendiri.
Di era marketing 4.0, dalam dunia kuliner pun sudah
banyak beberapa brand yang menerapkan strategi pemasaran ini. Persaingan dunia
kuliner yang demikian ketat menuntut pebisnis kuliner harus bisa memanfaatkan
konsumen dan semua pihak terkait agar mau bekerjasama meningkatkan brand
awareness secara online dan offline. Jadi tak heran lagi jika saat ini banyak
brand yang menggunakan jasa food blogger untuk meningkatkan brand awareness dan
angka penjualannya.
Tidak hanya strategi online, offline pun penting.
Pebisnis harus tetap memikirkan brand activation agar bisa bertemu langsung
dengan customer. Disamping acara offline brand activation dilaksanakan, harus
juga dikomunikasikan secara online agar netizen juga mengerti semua acara
offline yang diadakan oleh perusahaan. Di era saat ini, Marketing 4.0 memang
harus dijalankan agar sebuah brand bisa memenangkan persaingan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun Rumusan
Masalah dari penulisan ini, yaitu:
1.
Pengertian dari Pemasaran ?
2.
Bagaimana perkembangan pemasaran tradisional ke
pemasaran modern?
3.
Apa yang di maksud dengan ruang lungkup konsumen?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui pengertian dari pemasaran
2.
Untuk mengetahui perkembangan pemasaran tradisional ke
pemasaran modern
3.
Untuk mengetahui ruang lingkup konsumen
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pemasaran
Pemasaran adalah salah satu kegiatan pokok yang perlu
dilakukan oleh perusahaan baik itu perusahaan barang atau jasa dalam upaya
untuk mempertahankan kelangsungan hidup usahanya. Hal tersebut disebabkan karena
pemasaran merupakan salah satu kegiatan perusahaan, di mana secara langsung
berhubungan dengan konsumen. Maka kegiatan pemasaran dapat diartikan sebagai
kegiatan manusia yang berlangsung dalam kaitannya dengan pasar. Kotler (2001) mengemukakan definisi pemasaran berarti
bekerja dengan pasar sasaran untuk mewujudkan pertukaran yang potensial dengan
maksud memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia. Sehingga dapat dikatakan
bahwa keberhasilan pemasaran merupakan kunci kesuksesan dari suatu perusahaan.
Menurut Stanton (2001), definisi pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang atau jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.
Dari definisi tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasaran merupakan usaha terpadu untuk menggabungkan rencana-rencana strategis yang diarahkan kepada usaha pemuas kebutuhan dan keinginan konsumen untuk memperoleh keuntungan yang diharapkan melalui proses pertukaran atau transaksi. Kegiatan pemasaran perusahaan harus dapat memberikan kepuasan kepada konsumen bila ingin mendapatkan tanggapan yang baik dari konsumen. Perusahaan harus secara penuh tanggung jawab tentang kepuasan produk yang ditawarkan tersebut. Dengan demikian, maka segala aktivitas perusahaan, harusnya diarahkan untuk dapat memuaskan konsumen yang pada akhirnya bertujuan untuk memperoleh laba
Menurut Stanton (2001), definisi pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang atau jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.
Dari definisi tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasaran merupakan usaha terpadu untuk menggabungkan rencana-rencana strategis yang diarahkan kepada usaha pemuas kebutuhan dan keinginan konsumen untuk memperoleh keuntungan yang diharapkan melalui proses pertukaran atau transaksi. Kegiatan pemasaran perusahaan harus dapat memberikan kepuasan kepada konsumen bila ingin mendapatkan tanggapan yang baik dari konsumen. Perusahaan harus secara penuh tanggung jawab tentang kepuasan produk yang ditawarkan tersebut. Dengan demikian, maka segala aktivitas perusahaan, harusnya diarahkan untuk dapat memuaskan konsumen yang pada akhirnya bertujuan untuk memperoleh laba
2.2 Perkembangan pemasaran tradisional ke pemasaran modern
Teori modernisasi menjelaskan tentang proses transformasi dari masyarakat tradisional atau terbelakang ke masyarakat modern. Modernisasi merupakan proses perubahan
terhadap sistem ekonomi, sosial dan politik yang berkembang di Eropa Barat dan Amerika Utara dari abad ke-17 sampai ke-19 yang kemudian
menyebar ke negara-negara Eropa lainnya Perubahan tersebut juga terjadi di Amerika Selatan, Asia dan Afrika pada abad ke-19 dan ke-20. Teori modernisasi fokus pada
cara masyarakat pramodern menjadi modern melalui proses pertumbuhan ekonomi dan
perubahan struktur sosial, politik dan budaya. Masyarakat modern adalah
masyarakat industri. Oleh karena itu, hal pertama yang harus
dilakukan untuk memodernkan masyarakat adalah dengan industrialisasi.
Teori
evolusi menggambarkan perkembangan masyarakat dalam dua hal. Pertama, teori evolusi menganggap bahwa
perubahan sosial merupakan gerakan searah, seperti garis lurus. Masyarakat
berkembang dari masyarakat primitif menuju masyarakat maju Kedua, teori evolusi
membaurkan antara pandangan subjektifnya tentang nilai dan tujuan akhir
perubahan sosial. Perubahan menuju bentuk masyarakat modern merupakan sesuatu
yang tidak dapat dihindari
Teori
fungsionalisme tidak lepas dari pemikiran Talcott Parsons yang memandang masyarakat seperi organ tubuh
manusia Pertama, struktur tubuh manusia memiliki bagian yang saling terhubung
satu sama lain.Oleh karena itu, masyarakat mempunyai berbagai kelembagaan yang
saling terkait satu sama lain. Kedua, setiap bagian tubuh manusia memiliki
fungsi yang jelas dan khas, demikian pula setiap bentuk kelembagaan dalam
masyarakat.
Strategi
pemasaran terus berevolusi dari metode pemasaran tradisional sampai ke metode
modern. Pemasaran tradisional adalah bentuk pemasaran konvensional yang dipakai
sebelum era internet merajalela. Ini adalah jenis strategi pemasaran yang
paling dikenal banyak publik karena sebagian besar populasi di seluruh dunia
pernah memakai dan menikmati metode ini.
Baik
pemasaran tradisional maupun modern memiliki kelebihan dan kekurangannya
masing-masing. Namun, suatu bisnis bisa saja mengambil manfaat dari
mengintegrasikan kedua metode untuk menemukan titik optimal dalam memasarkan
produknya. Jika dirangkum, sebagian besar strategi pemasaran tradisional
menggunakan empat media ini secara umum yaitu media cetak (Print),
siaran (broadcasting), surat pos (Direct-Mail), dan telepon.
Berikut evolusi strategi pemasaran dari metode tradisional menuju metode modern
yang ditinjau dari empat unsur metode pemasaran tradisional:
1.
Dari Surat Pos (Direct-Mail)
Menuju Surat Elektronik (E-Mail)
Pemasaran
Surat Pos atau Direct-Mail adalah usaha pemasaran dengan menggunakan
media berupa kartu pos, brosur, surat, dan selebaran yang dikirim melalui pos
atau kurir. Namun, pemasaran direct-Mail terkesan mahal karena bisnis
mengeluarkan desain dan biaya pencetakan serta biaya pengiriman.
Sekarang,
banyak bisnis atau perusahaan sudah menggunakan surel atau email untuk
berkomunikasi antar sesama bisnis maupun terhadap pelanggan. Cara ini terkesan
lebih sederhana dan cepat. Bisnis tidak membutuhkan kertas lagi (paperless)
karena pesan terkirim dengan jaringan internet.
2.
Dari Cetak (Print) menuju Blog atau Situs Web
Pemasaran
cetak atau print adalah tipe pemasaran yang menggunakan media surat
kabar atau majalah dalam mempromosikan produk. Strategi pemasaran cetak dibagi
menjadi dua, yaitu pemasaran masal dan pemasaran berdasarkan karakter
pelanggan. Sebagai strategi pemasaran masal, iklan cetak menggapai kelas pelanggan
yang lebih luas dan berbeda-beda secara acak. Di majalah, pemasaran cetak
menjangkau segmen pelanggan yang terkategori secara spesifik. Seperti wanita,
ayah, remaja, pecinta mobil, dan lainnya.
Namun,
seiring dengan berkembangnya teknologi informasi, media cetak sudah semakin
ditinggalkan oleh publik. Bahkan beberapa perusahaan media berbasis cetak sudah
beralih ke Blog atau web. Jikalau masih ada perusahaan yang sepenuhnya
masih menggunakan metode tradisional, umur perusahaan tersebut tidak akan bertahan
lama. Hal ini bisa dilihat dari pengaruh perubahan kebiasaan konsumen dalam
mengakses informasi. Di era ini konsumen lebih suka mengakses dan membaca
informasi (baik berita maupun iklan) secara online melalui gadget mereka.
3.
Dari Siaran Televisi (Broadcasting) menuju Online Video
Advertising
Televisi
dan radio adalah media yang dipakai dalam strategi pemasaran tradisional dan
masih banyak digunakan saat ini. Pemasaran siaran menjangkau banyak pelanggan
dalam jangka waktu terbatas. Media siaran menyampaikan pesan pemasaran melalui
komunikasi secara lisan dan visual. Namun, pesan tersebut memiliki waktu
berlaku yang lebih pendek dibandingkan dengan media cetak. Ini disebabkan oleh
kesepakatan kontrak mengenai waktu penayangan dari pihak penyiar. Selain itu,
biaya pemasaran melalui televisi dan radio jauh lebih mahal dibandingkan dengan
bentuk pemasaran tradisional lainnya.
Dalam
usaha pemasaran berbasis visual, dewasa ini bisnis atau perusahaan sudah
beralih menuju fitur Online Video Advertising. Fitur ini mewadahi bisnis
untuk meluncurkan video pemasaran di berbagai kanal video online. Jenis
dari Online Video Advertising pun bermacam-macam, seperti Interactive
Video Ads, Webpage Video Ads, dan Social Media Video Ads. Biaya
untuk menampilkan Online Video Advertising pun terkesan lebih murah dan
prosesnya lebih cepat dibandingkan harus menyewa space di media televisi
maupun radio.
4.
Dari Telephone menjadi Gadget atau Smartphone
Sebelum
era Handphone dan Smartphone menjamur, penggunaan telepon sebagai
alat komunikasi jarak jauh masih digandrungi oleh publik. Menghubungi kerabat,
reservasi restoran, dan tentunya melancarkan kegiatan pemasaran bisa dilakukan
dengan menggunakan media telepon. Teknik ini pun masih digunakan oleh beberapa
bisnis dan perusahaan sampai saat ini untuk menghubungi pelanggannya.
Dibandingkan
sekarang, publik sudah sangat tergantung oleh gadget atau smartphone
akibat fleksibilitas dan berbagai kemudahan yang ditawarkan. Ketiga fitur yang
dijelaskan sebelumnya akan terasa lebih dekat dan mudah diakses dengan
menggunakan smartphone kapan pun di mana pun.
Keempat media tersebut merupakan
peralihan metode dan strategi pemasaran dari tradisional menuju modern. Namun,
beberapa perusahaan dan bisnis sekarang ini masih ada yang menggunakan metode
tradisional atau menggabungkan kedua metode dalam strategi pemasarannya. Hal
ini juga berlaku terhadap akuntansi perusahaan. Di mana sistem akuntansi
tradisional sudah berganti menjadi akuntansi modern. Sekarang, banyak bisnis
atau perusahaan menggunakan Software Akuntansi dalam sistem pencatatan
dan pelaporan keuangannya. Salah satunya Jurnal, Software Akuntansi
modern yang menawarkan fitur-fitur akuntansi secara lengkap dan ter-update. Sistem
akuntansi dari segala jenis perusahaan atau bisnis seperti manufaktur,
perdagangan, jasa, sampai franchise bisa Jurnal tangani.
Informasi lengkap mengenai produk Jurnal bisa dilihat di sini.
2.3 Ruang Lingkup
Konsumen
Perilaku
konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang/ organisasi dalam mencari,
membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan membuang produk atau jasa setelah dikonsumsi
untuk memenuhi kebutuhannya. Perilaku konsumen akan diperlihatkan dalam
beberapa tahap yaitu tahap sebelum pembelian, pembelian, dan setelah pembelian.
Pada tahap sebelum pembelian konsumen akan melakukan pencarian informasi yang
terkait produk dan jasa.
Pada
tahap pembelian, konsumen akan melakukan pembelian produk, dan pada tahap
setelah pembelian, konsumen melakukan konsumsi (penggunaan produk), evaluasi
kinerja produk, dan akhirnya membuang produk setelah digunakan.Atau
kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan
menggunakan barang dan jasa termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan
pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.
Konsumen
dapat merupakan seorang individu ataupun organisasi, mereka memiliki peran yang
berbeda dalam perilaku konsumsi, mereka mungkin berperan sebagai initiator,
influencer, buyer, payer atau user.
Dalam
upaya untuk lebih memahami konsumennya sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen, perusahaan dapat menggolongkan konsumennya ke dalam
kelompok yang memiliki kemiripan tertentu, yaitu pengelompokan menurut
geografi, demografi, psikografi, dan perilaku.
Perilaku
konsumen mempelajari di mana, dalam kondisi macam apa, dan bagaimana kebiasaan
seseorang membeli produk tertentu dengan merk tertentu. Kesemuanya ini sangat
membantu manajer pemasaran di dalam menyusun kebijaksanaan pemasaran
perusahaan. Proses pengambilan keputusan pembelian suatu barang atau jasa akan
melibatkan berbagai pihak, sesuai dengan peran masing-masing.
Peran yang dilakukan tersebut
adalah:
- Initiator, adalah individu yang mempunyai inisiatif pembelian barang tertentu;
- Influencer, adalah individu yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Informasi mengenai kriteria yang diberikan akan dipertimbangkan baik secara sengaja atau tidak;
- Decider, adalah yang memutuskan apakah akan membeli atau tidak, apa yang akan dibeli, bagaimana membelinya;
- Buyer, adalah individu yang melakukan transaksi pembelian sesungguhnya; dan
- User, yaitu individu yang mempergunakan produk atau jasa yang dibeli.
Banyak faktor yang mempengaruhi
seseorang melakukan pembelian terhadap suatu produk. Manajemen perlu
mempelajari faktor-faktor tersebut agar program pemasarannya dapat lebih
berhasil. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah faktor ekonomi, psikologis,
sosiologis dan antropologis.
Alasan mengapa seseorang membeli
produk tertentu atau alasan mengapa membeli pada penjual tertentu akan
merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan dalam menentukan desain
produk, harga, saluran distribusi, dan program promosi yang efektif, serta
beberapa aspek lain dari program pemasaran perusahaan.
Adapun beberapa teori perilaku
konsumen adalah sebagai berikut:
- Teori Ekonomi Mikro
Teori ini beranggapan bahwa setiap
konsumen akan berusaha memperoleh kepuasan maksimal. Mereka akan berupaya
meneruskan pembeliannya terhadap suatu produk apabila memperoleh kepuasan dari
produk yang telah dikonsumsinya, di mana kepuasan ini sebanding atau lebih
besar dengan marginal utility yang diturunkan dari pengeluaran yang sama untuk
beberapa produk yang lain;
- Teori Psikologis
Teori ini mendasarkan diri pada
faktor-faktor psikologis individu yang dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan
lingkungan. Bidang psikologis ini sangat kompleks dalam menganalisa perilaku
konsumen, karena proses mental tidak dapat diamati secara langsung;
- Teori Antropologis
Teori ini juga menekankan perilaku
pembelian dari suatu kelompok masyarakat yang ruang lingkupnya sangat luas, seperti
kebudayaan, kelas-kelas sosial dan sebagainya.
Pengertian Pemasaran menurut Stanton
adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan
untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan
barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan, baik kepada pembeli yang ada maupun
pembeli potensial (Stanton, 1997).
Pengertian pemasaran menurut Kotler
(2000: 8), pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dimana individu dan
kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan,
menawarkan dan mempertukarkan produk dengan pihak lain. Dalam hal ini pemasaran
merupakan proses pertemuan antara individu dan kelompok dimana masing-masing
pihak ingin mendapatkan apa yang mereka butuhkan/inginkan melalui tahap
menciptakan, menawarkan, dan pertukaran.
Definisi pemasaran tersebut
berdasarkan pada prinsip inti yang meliputi: kebutuhan (needs), produk (goods,
services and idea), permintaan (demands), nilai, biaya, kepuasan, pertukaran,
transaksi, hubungan, dan jaringan, pasar, pemasar, serta prospek.
Studi tentang perilaku konsumen juga
tidak terlepas pada masalah riset pemasaran. Riset pemasaran adalah salah satu
perangkat dalam Sistem Informasi Manajemen (SIM), yang melakukan pengumpulan
informasi tentang sikap, motivasi, keinginan, dan hal-hal lainnya tentang
konsumen. Dapat di lihat dari pengertiannya sebagai berikut:
- Motivasi
Motivasi sebagai tenaga dorong dalam
diri individu yang memaksa mereka untuk bertindak, yang timbul sebagai akibat
kebutuhan yang tidak terpenuhi. Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang
dirasakan. Kebutuhan sendiri muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan
(state of tension) antara yang seharusnya dirasakan dan yang sesungguhnya
dirasakan.
Untuk memahami kebutuhan manusia,
Teori Maslow dan McClelland menggambarkan bahwa manusia memiliki
kebutuhan-kebutuhan yang berbeda sehingga hal ini dapat digunakan pemasar untuk
mendorong konsumsi suatu produk dan atau jasa.
- Persepsi
Persepsi didefinisikan sebagai
proses yang dilakukan individu untuk memilih, mengatur, dan menafsirkan stimuli
ke dalam gambar yang berarti dan masuk akal mengenai dunia, yaitu proses
“bagaimana kita melihat dunia di sekeliling kita”. Stimuli ini diterima oleh
alat pancaindra manusia. Stimuli mana yang akan diproses tergantung dari apakah
stimuli dapat masuk ke dalam proses untuk menginterpretasikannya.
Untuk dapat masuk ke dalam proses
interpretasi suatu stimuli harus mampu mengekspos manusia (mendapat perhatian)
melalui indra penerimaan, artinya harus diperhatikan ambang penerimaan stimuli
manusia. Setelah stimuli diterima maka proses interpretasi dapat dilakukan yang
terkait dengan faktor individu
- Sikap
Terdapat beberapa pengertian sikap
yang disampaikan oleh para ahli. Intinya sikap adalah perasaan dari konsumen
(positif dan negatif) dari suatu objek setelah dia mengevaluasi objek tersebut.
Semakin banyak objek yang dievaluasi akan semakin banyak sikap yang terbentuk.
Sikap memiliki beberapa fungsi,
yaitu fungsi penyesuaian, ego defensive, ekspresi nilai, dan pengetahuan. Untuk
lebih memahami sikap perlu dipahami beberapa karakteristik sikap, diantaranya
memiliki objek, konsisten, intensitas dan dapat dipelajari.
- Model dan Teori Sikap
Perkembangan teori tentang sikap
sudah sangat maju. Sikap juga dapat digambarkan dalam bentuk model. Model
tradisional menggambarkan pengaruh informasi dari lingkungan luar pribadi
seseorang, di mana informasi tersebut akan diolah dengan menggunakan elemen
internal dari seseorang, untuk menghasilkan sikap terhadap objek. Model
analisis konsumen menyebutkan bahwa sikap terdiri dari komponen perasaan
(affect) dan kognitif, perilaku, serta lingkungan. Model tiga komponen dan
model ABC menyatakan bahwa sikap konsumen dibentuk oleh faktor kognitif,
afektif, dan konatif (perilaku atau kecenderungan untuk berperilaku).
Teori kongruitas menggambarkan
pengaruh antara dua jenis objek, di mana kekuatan satu sama lain dapat saling
mempengaruhi persepsi konsumen. Dan model terakhir adalah model Fishbein yang
merupakan kombinasi dari kepercayaan objek terkait dengan atribut dan
intensitas dari kepercayaan tersebut. Model Fishbein ini kemudian dimodifikasi
dengan menambahkan bahwa perilaku dipengaruhi oleh sikap terhadap perilaku dan
norma subjektif.
- Pembentukan Sikap
Sikap yang terbentuk biasanya
didapatkan dari pengetahuan yang berbentuk pengalaman pribadi. Sikap juga dapat
terbentuk berdasarkan informasi yang diterima dari orang lain, yang memiliki
pengaruh. Kelompok juga menjadi sumber pembentukan sikap yang cukup berpengaruh.
- Perubahan Sikap
Strategi perubahan sikap dapat
dilakukan baik terhadap produk dengan keterlibatan tinggi, maupun untuk produk
dengan tingkat keterlibatan rendah. Usaha mengarahkan audiens untuk produk
dengan keterlibatan rendah ditempuh dengan mentransformasi situasi ke arah
keterlibatan konsumen yang tinggi. Adapun strategi perubahan sikap konsumen
terhadap produk atau jasa tertentu dilakukan dengan menggunakan saluran
komunikasi persuasif, yang mengikuti alur proses komunikasi yang efektif.
Pemasar harus mampu
mengidentifikasi, menganalisis, dan mengoptimalkan penggunaan faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi dan dapat menyebabkan perubahan sikap dari penerima
pesan atau konsumen. Faktor sumber, pesan, dan penerima pesan dapat digunakan
secara optimal untuk menghasilkan perubahan sikap dan tentunya perubahan
perilaku positif dari konsumen yang diharapkan oleh pemasar. Kredibilitas dari
sumber pesan menjadi fokus dari komunikasi persuasif. Dalam mengelola pesan,
yang harus diperhatikan adalah struktur, urutan, dan makna yang terkandung
dalam pesan. Karakteristik dari penerima pesan, yang meliputi kepribadian,
mood, dan jenis kepercayaan yang dimiliki juga menjadi faktor penentu
keberhasilan komunikasi persuasif.
- Kepribadian
Konsep kepribadian (personality)
dibahas secara teoretis oleh para pakar melalui berbagai sudut pandang yang
beraneka ragam, diantaranya menekankan pembahasan kepribadian pada pengaruh
sosial dan lingkungan terhadap pembentukan kepribadian secara kontinu dari
waktu ke waktu, serta menekankan pada pengaruh faktor keturunan dan pengalaman
di awal masa kecil terhadap pembentukan kepribadian.
Tiga karakteristik yang perlu
dibahas dalam pembahasan mengenai kepribadian adalah kepribadian mencerminkan
perbedaan antarindividu, kepribadian bersifat konsisten dan berkelanjutan, dan
kepribadian dapat mengalami perubahan.
Dalam mempelajari kaitan antara
kepribadian dan perilaku konsumen, 3 teori kepribadian yang sering digunakan
sebagai acuan adalah teori Freudian, Neo Freudian dan teori traits.
- Konsep Diri
Konsep diri adalah bagaimana
seseorang memandang dirinya sendiri yang kadang-kadang akan berbeda dari
pandangan orang lain. Konsep diri konsumen terbagi ke dalam 4 dimensi, yaitu
bagaimana mereka sesungguhnya melihat dirinya sendiri, bagaimana mereka ingin
melihat diri mereka sendiri, bagaimana sesungguhnya orang lain melihat diri
mereka, dan bagaimana mereka ingin orang lain melihat diri mereka.
Bagaimana konsumen memandang diri
mereka dapat menjadi dorongan yang kuat pada perilaku mereka di pasar sehingga
pemasar dapat menggunakan konsep diri ini dalam merancang strategi pemasaran,
misalnya dalam menciptakan merek atau produk baru.
Extended self merujuk pada
kecenderungan seseorang untuk mendefinisikan dirinya sendiri berdasarkan
kepemilikannya (possession). Kepemilikan yang dimaksud di sini tidak harus
sesuatu yang besar, seperti rumah atau mobil, tetapi dapat berupa benda-benda
kecil, seperti pigura. Penelitian memperlihatkan, konsumen cenderung untuk
memilih produk atau merek yang sesuai dengan dirinya atau dengan apa yang ingin
dicapainya sebagai manusia. Lebih banyak wanita daripada pria yang menganggap
bahwa produk yang mereka gunakan mencerminkan kepribadiannya sendiri.
Pemasar sebaiknya mengembangkan
citra produk sedemikian rupa sehingga sesuai dengan konsep diri yang dianut
oleh konsumen. Meskipun konsep diri yang dimiliki seseorang bersifat sangat
unik, ada kemungkinan konsep diri antar individu memiliki beberapa kemiripan.
- Gaya Hidup
Gaya hidup merupakan pola hidup yang
menentukan bagaimana seseorang memilih untuk menggunakan waktu, uang dan energi
dan merefleksikan nilai-nilai, rasa, dan kesukaan. Gaya hidup adalah bagaimana
seseorang menjalankan apa yang menjadi konsep dirinya yang ditentukan oleh
karakteristik individu yang terbangun dan terbentuk sejak lahir dan seiring
dengan berlangsungnya interaksi sosial selama mereka menjalani siklus
kehidupan.
Konsep gaya hidup konsumen sedikit
berbeda dari kepribadian. Gaya hidup terkait dengan bagaimana seseorang hidup,
bagaimana menggunakan uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktu mereka.
Kepribadian menggambarkan konsumen lebih kepada perspektif internal, yang
memperlihatkan karakteristik pola berpikir, perasaan dan persepsi mereka
terhadap sesuatu.
Gaya hidup yang diinginkan oleh
seseorang mempengaruhi perilaku pembelian yang ada dalam dirinya, dan
selanjutnya akan mempengaruhi atau bahkan mengubah gaya hidup individu
tersebut.
Berbagai faktor dapat mempengaruhi
gaya hidup seseorang diantaranya demografi, kepribadian, kelas sosial, daur
hidup dalam rumah tangga. Kasali (1998) menyampaikan beberapa perubahan
demografi Indonesia di masa depan, yaitu penduduk akan lebih terkonsentrasi di
perkotaan, usia akan semakin tua, melemahnya pertumbuhan penduduk, berkurangnya
orang muda, jumlah anggota keluarga berkurang, pria akan lebih banyak, semakin
banyak wanita yang bekerja, penghasilan keluarga meningkat, orang kaya
bertambah banyak, dan pulau Jawa tetap terpadat.
- Psikografi
Psikografi adalah variabel-variabel
yang digunakan untuk mengukur gaya hidup. Bahkan sering kali istilah psikografi
dan gaya hidup digunakan secara bergantian. Beberapa variabel psikografi adalah
sikap, nilai, aktivitas, minat, opini, dan demografi. Analisis terhadap
variabel-variabel psikografis telah banyak membantu pemasar untuk
mengelompokkan konsumen berdasarkan kesamaan tertentu. Hal ini akan membantu
penetapan strategi pemasaran agar sesuai dengan target konsumen.
Pengukuran psikografi dapat
dilakukan dalam tingkat kespesifikan yang berbeda-beda. Pada satu sisi ekstrem
terdapat pengukuran yang bersifat umum yang menyangkut cara-cara umum dalam
menjalani kehidupan. Pada satu sisi ekstrem lainnya adalah pengukuran terhadap
variabel secara spesifik.
- Konsep Dasar Kelompok
Kelompok merupakan kumpulan
individu-individu yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya
selama periode waktu tertentu untuk suatu kebutuhan atau tujuan bersama.
Untuk dapat memahami karakteristik
kelompok, perlu dipahami beberapa hal yang terkait dengan kelompok, yaitu
status, norma, peran, sosialisasi, dan kekuasaan yang ada di dalam kelompok.
Kekuasaan yang mempengaruhi kelompok
ini dapat mempengaruhi perilaku anggotanya, diantaranya kekuasaan karena
pemberian penghargaan/hadiah (reward power), kekuasaan karena paksaan melalui
hukuman/sangsi (coercive power), kekuasaan yang sah (legitimate power),
kekuasaan karena keahlian (expert power), dan kekuasaan karena
perasaan/keinginan untuk menjadi anggota kelompok (referent power).
- Pengaruh Kelompok terhadap Perilaku Konsumen
Kelompok referensi/acuan adalah
individu/kelompok nyata atau khayalan yang memiliki pengaruh evaluasi,
aspirasi, bahkan perilaku terhadap orang lain. Kelompok acuan (yang paling
berpengaruh terhadap konsumen) mempengaruhi orang lain melalui norma,
informasi, dan melalui kebutuhan nilai ekspresif konsumen.
Pemasar harus dapat mengidentifikasi
peran seseorang di dalam kelompoknya dalam pengambilan keputusan, dan harus
menekankan pada si pengambil keputusan. Penyesuaian dilakukan hanya untuk
sekadar menyesuaikan diri agar diterima oleh kelompok atau penyesuaian yang
mengubah kepercayaan. Orang butuh untuk menilai opini dan kemampuan mereka
dengan membandingkannya dengan opini dan kemampuan orang lain. Dalam polarisasi
kelompok, perbedaan pandangan antara kelompok dengan individu, dan kelompok
dapat berubah pandangannya dikarenakan informasi dan budaya yang ada.
Kelompok acuan dapat berbentuk
organisasi formal yang besar, terstruktur dengan baik, memiliki jadwal
pertemuan rutin, dan karyawan-karyawan yang tetap. Di lain pihak, kelompok
acuan juga dapat berbentuk kelompok kecil dan informal. Kelompok acuan terdiri
dari orang-orang yang dikenal secara mendalam (seperti keluarga atau sahabat)
atau orang-orang yang dikenal tanpa ada hubungan yang mendalam (klien) atau
orang-orang yang dikagumi (tokoh atau artis). Karena orang cenderung
membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki kemiripan, mereka sering
kali terpengaruh dengan mengetahui bagaimana orang lain menginginkan mereka
menjalani hidup.
Kecenderungan orang untuk menjadi
bagian dari kelompok acuan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah
keakraban, ekspos terhadap seseorang (Mere Exposure), dan kepaduan kelompok.
Terdapat beberapa bentuk kelompok
acuan yang dapat mempengaruhi konsumen dalam perilaku konsumsi, yaitu kelompok
pertemanan, kelompok belanja, kelompok kerja, komunitas maya dan kelompok aksi
konsumen.
Seorang pemberi opini ini adalah
orang yang sering kali mampu mempengaruhi sikap atau perilaku orang lain.
Opinion leader memiliki sumber informasi yang berharga. Yang biasanya menjadi
opinion leader adalah artis, ahli atau pakar di bidang tertentu, orang awam
(biasa), pimpinan perusahaan, dan karakter
- Keluarga
Rumah tangga (a household) terdiri
dari anggota yang terkait dengan keluarga (family) dan semua orang-orang yang
tidak terkait yang berada dalam suatu unit tempat tinggal (baik itu rumah,
apartemen, kelompok kamar-kamar, dan lain-lain). Rumah tangga dapat terdiri
dari dua jenis/ bentuk: keluarga (families) dan non-keluarga (non families).
Suatu keluarga mungkin merupakan
suatu keluarga patriat (patriarchal family), di mana sang ayah dipertimbangkan
sebagai anggota yang paling dominan, sedangkan dalam suatu keluarga matriat
(matriarchal family), pihak wanita memainkan peran dominan, dan membuat banyak
keputusan, sedangkan dalam equalitarian family, sang suami dan istri membagi
secara seimbang pengambilan keputusan Keluarga memiliki struktur sendiri,
seperti juga yang terjadi pada masyarakat, di mana setiap anggota memainkan
perannya masing-masing. Bagi pemasar adalah penting untuk membedakan peran
setiap anggota keluarga dalam tujuan untuk mengoptimalkan strategi pemasaran.
Asumsi yang dibuat mengenai peran-peran pembelian harus dicek melalui riset
konsumen sehingga pemasar dapat membuat bauran pemasaran yang tepat ditujukan
terhadap individu yang tepat.
Konsep siklus hidup keluarga atau
rumah tangga telah terbukti sangat bermanfaat bagi pemasar, khususnya untuk
aktivitas dari keluarga-keluarga seiring dengan berjalannya waktu. Dengan
adanya konsep siklus hidup, pemasar mampu mengapresiasi kebutuhan keluarga,
pembelian produk, dan sumber daya keuangan bervariasi sepanjang waktu.
Siklus hidup keluarga modern
didasarkan pada usia (dari individu wanita dalam rumah tangga, jika tepat),
yang ditelusuri dalam kelompok-kelompok usia muda (young), usia menengah
(middle aged). Dan kelompok usia lebih tua (elderly). Usia yang beragam ini
dipengaruhi oleh dua bentuk peristiwa penting, yaitu (1) pernikahan dan
pemisahan (baik karena perceraian atau kematian), dan (2) hadirnya anak pertama
dan anak paling akhir.
- Kelas Sosial
Kelas sosial didefinisikan sebagai
pembagian anggota masyarakat ke dalam suatu hierarki status kelas yang berbeda
sehingga para anggota setiap kelas secara relatif mempunyai status yang
sama`dan para anggota kelas lainnya mempunyai status yang lebih tinggi atau
lebih rendah.
Kategori kelas sosial biasanya
disusun dalam hierarki, yang berkisar dari status yang rendah sampai yang
tinggi. Dengan demikian, para anggota kelas sosial tertentu merasa para anggota
kelas sosial lainnya mempunyai status yang lebih tinggi maupun lebih rendah dari
pada mereka.
Aspek hierarkis kelas sosial penting
bagi para pemasar. Para konsumen membeli berbagai produk tertentu karena
produk-produk ini disukai oleh anggota kelas sosial mereka sendiri maupun kelas
yang lebih tinggi, dan para konsumen mungkin menghindari berbagai produk lain
karena mereka merasa produk-produk tersebut adalah produk-produk “kelas yang
lebih rendah”.
Pendekatan yang sistematis untuk
mengukur kelas sosial tercakup dalam berbagai kategori yang luas berikut ini:
ukuran subjektif, ukuran reputasi, dan ukuran objektif dari kelas sosial.
Peneliti konsumen telah menemukan
bukti bahwa di setiap kelas sosial, ada faktor-faktor gaya hidup tertentu
(kepercayaan, sikap, kegiatan, dan perilaku bersama) yang cenderung membedakan
anggota setiap kelas dari anggota kelas sosial lainnya.
Para individu dapat berpindah ke
atas maupun ke bawah dalam kedudukan kelas sosial dari kedudukan kelas yang
disandang oleh orang tua mereka. Yang paling umum dipikirkan oleh orang-orang
adalah gerakan naik karena tersedianya pendidikan bebas dan berbagai peluang
untuk mengembangkan dan memajukan diri.
Dengan mengenal bahwa para individu
sering menginginkan gaya hidup dan barang-barang yang dinikmati para anggota
kelas sosial yang lebih tinggi maka para pemasar sering memasukkan
simbol-simbol keanggotaan kelas yang lebih tinggi, baik sebagai produk maupun
sebagai hiasan dalam iklan yang ditargetkan pada audiens kelas sosial yang
lebih rendah.
- Budaya
Dalam studi tentang budaya kita
perlu memperhatikan karakteristik-karakteristik dari budaya itu sendiri, yaitu
budaya itu ditemukan (invented), budaya dipelajari, budaya diyakini dan
disebarluaskan secara sosial, budaya-budaya itu serupa tapi tidak sama, budaya
itu memuaskan kebutuhan dan diulang-ulang secara konsisten (persistent), budaya
bersifat adaptif, budaya itu terorganisasi dan terintegrasi, dan budaya itu
dasar aturan (prescriptive).
Nilai adalah ide umum tentang tujuan
yang baik dan yang buruk. Dari alur norma atau aturan yang menjelaskan tentang
yang benar atau yang salah, yang bisa diterima dan yang tidak. Beberapa norma
dikatakan sebagai enacted norms, di mana maksud dari norma tersebut terlihat
secara eksplisit, benar dan salah. Namun, banyak norma lain yang lebih halus,
ini adalah crescive norm yang telah tertanam dalam budaya dan hanya bisa
terlihat melalui interaksi antaranggota dalam budaya.
Nilai-nilai budaya yang berlaku
berbeda di setiap wilayah. Nilai yang berlaku di suatu Negara belum tentu
berlaku di Negara atau bahkan bisa bertolak belakang dari nilai yang berlaku di
Negara lain tersebut. Budaya mempengaruhi konsumen dalam sudut pandang terhadap
dirinya dan orang lain, dan karenanya mempengaruhinya dalam berperilaku. Oleh
karenanya, budaya sangat mempengaruhi bagaimana konsumen bereaksi atau
berperilaku terhadap produk atau inovasi tertentu.
- Subbudaya
Subbudaya adalah grup budaya dalam
cakupan berbeda, yang menggambarkan segmen yang teridentifikasi dalam
masyarakat yang lebih besar atau sebuah kelompok budaya tertentu yang berbeda
yang hadir sebagai sebuah segmen dalam sebuah masyarakat yang lebih besar dan
kompleks.
Analisa subbudaya memungkinkan
manajer pemasaran untuk fokus dalam menentukan ukuran segmen pasar dan segmen
pasar yang lebih natural. Subbudaya yang penting untuk diperhatikan adalah
subbudaya kewarganegaraan, agama, lokasi geografis, ras, usia dan jenis kelamin
(Schiffman dan Kanuk, 2004). Selain ketujuh hal tersebut, kelas sosial juga
tergolong sebagai subbudaya karena kelas sosial akan mempengaruhi perilaku
sebagai akibat dari keanggotaan pada kelas sosial tertentu, termasuk perilaku
pada setiap kelas sosial masyarakat seluruh dunia.
Perusahaan yang bergerak dalam pasar
global memiliki kebutuhan untuk mengembangkan perencanaan penasaran yang
terpisah untuk tiap budaya atau penggunaan satu perencanaan pemasaran yang bisa
diimplementasikan dalam tiap daerah/negara. Mengadaptasi budaya dari budaya
lokal juga merupakan salah satu cara yang bisa dipertimbangkan.
Tujuan utama dari analisis konsumen
lintas budaya adalah untuk melihat bagaimana persamaan konsumen dalam dua atau
lebih masyarakat, dan bagaimana perbedaan mereka.
Pengaruh lintas budaya dan subbudaya
dapat berpengaruh terhadap strategi pemasaran, yang akan dibahas dalam bagian
ini lebih pada strategi segmentasi dan 4P. Khusus terhadap 4P diharapkan dapat
diambil dari pelajaran-pelajaran yang ada dalam kesalahan-kesalahan yang pernah
terjadi, misalnya dalam mendefinisikan produk, promosi, dan penetapan harga.
- Konsep Dasar Pengambilan Keputusan Konsumen
Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,
seorang konsumen harus memilih produk dan/atau jasa yang akan dikonsumsinya.
Banyaknya pilihan yang tersedia, kondisi yang dihadapi, serta
pertimbangan-pertimbangan yang mendasari akan membuat pengambilan keputusan
satu individu berbeda dari individu lainnya. Pada saat seorang konsumen baru
akan melakukan pembelian yang pertama kali akan suatu produk, pertimbangan yang
akan mendasarinya akan berbeda dari pembelian yang telah berulang kali
dilakukan. Pertimbangan-pertimbangan ini dapat diolah oleh konsumen dari sudut
pandang ekonomi, hubungannya dengan orang lain sebagai dampak dari hubungan
sosial, hasil analisa kognitif yang rasional ataupun lebih kepada
ketidakpastian emosi (unsure emosional). menggambarkan bahwa pada saat mengambil
keputusan, semua pertimbangan ini akan dialami oleh konsumen walaupun perannya
akan berbeda-beda di setiap individu
- Proses Pengambilan Keputusan Konsumen
Proses pengambilan keputusan diawali
dengan adanya kebutuhan yang berusaha untuk dipenuhi. Pemenuhan kebutuhan ini
terkait dengan beberapa alternatif sehingga perlu dilakukan evaluasi yang
bertujuan untuk memperoleh alternatif terbaik dari persepsi konsumen. Di dalam
proses membandingkan ini konsumen memerlukan informasi yang jumlah dan tingkat
kepentingannya tergantung dari kebutuhan konsumen serta situasi yang
dihadapinya.
Keputusan pembelian akan dilakukan
dengan menggunakan kaidah menyeimbangkan sisi positif dengan sisi negatif suatu
merek (compensatory decision rule) ataupun mencari solusi terbaik dari
perspektif konsumen (non-compensatory decision rule), yang setelah konsumsi
akan dievaluasi kembali.
- Model Pengambilan Keputusan Konsumen
Model-model pengambilan keputusan
telah dikembangkan oleh beberapa ahli untuk memahami bagaimana seorang konsumen
mengambil keputusan pembelian. Model-model pengambilan keputusan kontemporer
ini menekankan kepada aktor yang berperan pada pengambilan keputusan yaitu
konsumen, serta lebih mempertimbangkan aspek psikologi dan sosial individu.
- Konsumerisme
Konsumerisme adalah suatu gerakan
sosial yang dilakukan oleh berbagai pihak yang bertujuan untuk meningkatkan
posisi konsumen dalam berinteraksi dengan pihak penjual, baik sebelum, pada
saat, dan setelah konsumsi dilakukan. Konsumen perlu mengetahui hak-haknya secara
jelas sehingga apabila terjadi ketidaksesuaian yang dirasakan pada tiga fase
tersebut, konsumen akan dapat mengidentifikasi letak ketidaksesuaiannya, di
mana karena sumber permasalahan dapat berasal dari kecerobohan konsumen itu
sendiri.
Perkembangan teknologi informasi dan
era perdagangan bebas memunculkan masalah konsumerisme baru yang harus
diwaspadai oleh berbagai pihak sehingga dapat mencegah dampak yang merusak bagi
konsumen.
- Model dan Penelitian terhadap Perilaku Konsumen
Dalam usaha untuk lebih memahami
perilaku konsumen, seorang pemasar akan melakukan penelitian yang terkait
dengan konsumen dan produk yang dipasarkan. Penelitian ini dilakukan dalam
upaya untuk mengumpulkan informasi mengenai karakteristik perilaku konsumen
sehingga seorang pemasar akan dapat lebih mengenal siapa konsumennya, dan
bagaimana perilaku mereka dalam mencari, menggunakan, dan membuang produk.
Perilaku konsumen sangat kompleks
dan melibatkan banyak variabel dalam analisis sehingga diperlukan model-model
perilaku konsumen untuk menyederhanakan gambaran dan keterkaitan antar variabel
tersebut dalam perilaku konsumen. Dengan berpedoman kepada model-model perilaku
konsumen yang telah ada maka penelitian akan lebih mudah dilakukan karena
variabel-variabel terkait sudah teridentifikasi di dalam model-model tersebut.
- Lembaga Perlindungan Konsumen
Tidak pahamnya konsumen mengenai hak
dan kewajibannya sebagai seorang konsumen yang menggunakan barang dan atau jasa
yang disediakan oleh pelaku bisnis, sering kali menimbulkan permasalahan yang
merugikan konsumen. Kerugian dapat berupa kerugian fisik (kesehatan dan
keselamatan) maupun kerugian nonfisik yaitu uang. Sering kali konsumen hanya
pasrah setelah menerima perlakuan yang merugikan mereka, yang disebabkan karena
mereka tidak tahu bagaimana dan kepada siapa harus mengadukan permasalahannya.
Perlindungan konsumen ini tertuang
dalam Undang-undang No.8 Tahun 1999 yang dikenal dengan Undang-undang
Perlindungan Konsumen (UUPK), di mana secara jelas diuraikan berbagai hal
mengenai hak dan kewajiban konsumen dan pelaku bisnis serta pihak-pihak yang
terkait dalam program Perlindungan Konsumen. Salah satu lembaga yang bergerak
dalam perlindungan konsumen ini adalah Yayasan lembaga Konsumen Indonesia
(YLKI) yang tujuan utamanya adalah untuk membantu konsumen Indonesia agar tidak
dirugikan dalam mengonsumsi barang dan atau jasa.
- Globalisasi dan Perubahan Perilaku Konsumen
Globalisasi menghilangkan
batas-batas negara untuk mengonsumsi suatu produk atau jasa. Teknologi
informasi akan memudahkan konsumen untuk memperoleh informasi yang terkait
dengan perilaku konsumsi, produk, dan gaya hidup di negara lain dan akan
mempengaruhi perilaku konsumsinya sendiri. Teknologi informasi juga
mempengaruhi pelaku bisnis dalam hal penyebaran informasi dan melakukan
komunikasi dengan konsumen.
Konsep Pemasaran
Fokus pemasaran yang utama adalah
menjadikan kebutuhan dan keinginan para konsumen. Filsafat pemasaran yang
berorientasi ke konsumen dikenal sebagai konsep pemasaran. Asumsi pokok yang
mendasari konsep pemasaran adalah jika perusahaan ingin meraih sukses maka
perusahaan harus menentukan kebutuhan dan keinginan berbagai target pasar
tertentu dan memberikan kepuasan yang diinginkan lebih baik dari pada
pesaing. Konsep pemasaran didasarkan pada dasar pemikiran bahwa pemasar harus
membuat apa yang dapat dijualnya, dari pada berusaha menjual apa yang telah
dibuatnya. Konsep penjualan berfokus pada kebutuhan penjual, sedangkan konsep
pemasaran berfokus pada kebutuhan pembeli.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pemasaran
merupakan usaha terpadu untuk menggabungkan rencana-rencana strategis yang
diarahkan kepada usaha pemuas kebutuhan dan keinginan konsumen untuk memperoleh
keuntungan yang diharapkan melalui proses pertukaran atau transaksi. Kegiatan
pemasaran perusahaan harus dapat memberikan kepuasan kepada konsumen bila ingin
mendapatkan tanggapan yang baik dari konsumen. Perusahaan harus secara penuh
tanggung jawab tentang kepuasan produk yang ditawarkan tersebut. Dengan
demikian, maka segala aktivitas perusahaan, harusnya diarahkan untuk dapat
memuaskan konsumen yang pada akhirnya bertujuan untuk memperoleh laba.
Daftar pustaka
https://www.kompasiana.com/lizazu/5c347d6743322f0be3059cb4/marketing-di-era-4-0
http://artonang.blogspot.com/2018/09/defenisi-dan-ruang-lingkup-perilaku.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar